'/> Macam-Macam Rasio Keuangan Dan Rumusnya

Info Populer 2022

Macam-Macam Rasio Keuangan Dan Rumusnya

Macam-Macam Rasio Keuangan Dan Rumusnya
Macam-Macam Rasio Keuangan Dan Rumusnya

Macam-Macam Rasio Keuangan Rasio keuangan menjelaskan suatu relasi antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dalam suatu laporan keuangan. Tujuan analisis rasio keuangan dimaksudkan semoga perbandingan-perbandingan yang dilakukan terhadap pos-pos dalam laporan keuangan merupakan suatu perbandingan yang logis, dengan memakai ukuran-ukuran tertentu yang memang telah diakui memiliki manfaat tertentu pula, sehingga hasil analisisnya layak digunakan sebagai pemikiran pengambilan keputusan.

(Pahami pula: Pengertian dan Tujuan Laporan Keuangan)

Pada dasarnya rasio keuangan itu banyak macamnya dan sanggup dibentuk sesuai kebutuhan penganalisis. Berdasarkan sumbernya, rasio keuangan digolongkan menjadi tiga, yaitu:
  • Pertama, Rasio-rasio neraca (Balance Sheet Ratio), yakni rasio-rasio yang disusun dari data dalam neraca.
  • Kedua, Rasio-rasio laporan rugi-laba (Income Statement Ratio), yakni rasio-rasio yang disusun dari data dalam laporan rugi laba.
  • Ketiga, Rasio-rasio antar laporan (Intern Statement Ratio), yaitu rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data lainnya yang berasal dari laporan rugi laba. 
Berdasarkan tujuan analisis angka-angka rasio dibagi menjadi 4 yakni: rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio rentabilitas, dan rasio acara yang sanggup dijelaskan memberikankut ini:

A. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas yakni rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk melunasi tiruana kewajiban yang harus segera dipenuhi (hutang jangka pendeknya). Perusahaan yang memiliki cukup kemampuan untuk membayar hutang jangka pendek disebut perusahaan yang likuid sedang bila tidak disebut ilikuid. Rasio likuiditas yang umum dipergunakan untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan antara lain:

1. Current Ratio

Rasio ini membandingkan aktiva lancar dengan hutang lancar. Current Ratio memmemberikankan informasi wacana kemampuan aktiva lancar untuk menutup hutang lancar. Aktiva lancar mencakup kas, piutang dagang, dampak dan imbas, persediaan, dan aktiva lainnya. Sedangkan hutang lancar mencakup hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, dan hutang lainnya yang segera harus dibayar (Sutrisno, 2001:247). Rumus current ratio adalah:
Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Apabila rasio lancar 1:1 atau 100% berarti bahwa aktiva lancar sanggup menutupi tiruana hutang lancar. Kaprikornus dikatakan sehat jikalau rasionya berada di atas 1 atau diatas 100%. Artinya aktiva lancar harus jauh di atas jumlah hutang lancar (Harahap, 2002:301)

2. Quick Ratio

Quick ratio disebut juga acid test ratio, merupakan perimbangan antara jumlah aktiva lancar dikurangi persediaan, dengan jumlah hutang lancar. Persediaan tidak dimasukkan dalam perhitungan quick ratio lantaran persediaan merupakan komponen aktiva lancar yang paling kecil tingkat likuiditasnya. Quick ratio memseriuskan komponen-komponen aktiva lancar yang ludang kecepeh likuid yaitu: kas, surat-surat berharga, dan piutang dihubungkan dengan hutang lancar atau hutang jangka pendek (Martono, 2003:56). Kaprikornus rumusnya:
Jika terjadi perbedaan yang sangat besar antara quick ratio dengan current ratio, dimana current ratio meningkat sedangkan quick ratio menurun, berarti terjadi investasi yang besar pada persediaan.

Rasio ini memperlihatkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid bisa menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini semakin baik. Angka rasio ini tidak harus 100% atau 1:1. Walaupun rasionya tidak mencapai 100% tapi mendekati 100% juga sudah dikatakan sehat (Harahap, 2002:302).

3. Cash Ratio

Rasio ini membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Kas yang dimaksud yakni uang perusahaan yang disimpan di kantor dan di bank dalam bentuk rekening Koran. Sedangkan harta setara kas (near cash) yakni harta lancar yang dengan memperringan dan sepele dan cepat sanggup diuangkan kembali, sanggup dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Negara yang menjadi domisili perusahaan bersangkutan. Rumus untuk menghitung cash ratio adalah:
Rasio ini memperlihatkan porsi jumlah kas + setara kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Semakin besar rasionya semakin baik. Sama ibarat Quick Ratio, tidak harus mencapai 100% (Harahap, 2002:302).

B. Rasio Solvabilitas


Rasio solvabilitas yakni rasio yang memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi. Perusahaan yang memiliki aktiva/kekayaan yang cukup untuk membayar tiruana hutang-hutangnya disebut perusahaan yang solvable, sedang yang tidak disebut insolvable. Perusahaan yang solvabel belum tentu ilikuid , demikian juga sebaliknya yang insolvable belum tentu ilikuid. Macam-macam rasio keuangan berkaitan dengan rasio solvabilitas yang biasa digunakan adalah:

1. Total Debt to Total Assets Ratio

Rasio yang biasa disebut dengan rasio hutang (debt ratio) ini mengukur prosentase besarnya dana yang berasal dari hutang. Hutang yang dimaksud yakni tiruana hutang yang dimiliki oleh perusahaan baik yang berjangka pendek maupun yang berjangka panjang. Kreditor ludang kecepeh menyukai debt ratio yang rendah alasannya yakni tingkat keamanan dananya menjadi semakin baik (Sutrisno, 2001:249). Untuk mengukur besarnya rasio hutang ini digunakan rumus:
Rasio ini memperlihatkan sejauh mana hutang sanggup ditutupi oleh aktiva. Semakin kecil rasionya semakin kondusif (solvable). Porsi hutang terhadap aktiva harus ludang kecepeh kecil (Harahap, 2002:304).

2. Debt to Equity Ratio

Rasio hutang dengan modal sendiri (debt to equity ratio) yakni imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibanding dengan hutangnya. Bagi perusahaan sebaiknya, besarnya hutang dihentikan meludang kecepehi modal sendiri semoga beban tetapnya tidak terlalu tinggi. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Maksudnya, semakin kecil porsi hutang terhadap modal, semakin aman. Rumusnya:

C. Rasio Rentabilitas

Rasio rentabilitas atau profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam mendapat keuntungan (Baca pula: pengertian dan analisis rasio profitabilitas). Perhatian ditekankan pada rasio ini lantaran hal ini berkaitan erat dengan kelangsungan hidup perusahaan. Ada beberapa ukuran rasio rentabilitas yang dipakai, yakni:

1. Profit Margin

Rasio ini menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan kebersihan pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa dilihat eksklusif pada analisis common size untuk laporan rugi keuntungan (baris paling akhir). Rasio ini bisa diintepretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode tertentu (Hanafi dan Halim, 2000:84). Rasio profit margin bisa dihitung sebagai memberikankut: 

Rasio ini memperlihatkan berapa besar persentase pendapatan kebersihan yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasionya semakin baik, lantaran dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapat keuntungan cukup tinggi (Harahap, 2002:304).

2. Gross Profit Margin

Gross Profit Margin merupakan perbandingan antara keuntungan kotor yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Rasio ini mencerminkan atau menggambarkan keuntungan kotor yang sanggup dicapai setiap rupiahpenjualan. Semakin besar rasionya berarti semakin baik kondisi keuangan perusahaan (Munawir, 2001:89). Rasio ini dirumuskan sebagai memberikankut:
Rasio ini memperlihatkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang akan menutupi biaya-biaya tetap atau biaya operasi lainnya. Dengan pengetahuan atas rasio ini sanggup mengontrol pengeluaran untuk biaya tetap atau biaya operasi sehingga perusahaan sanggup menikmati laba. Semakin besar rasionya semakin baik (Harahap, 2002:306).

3. Net Profit Margin

Net Profit Margin atau Margin Laba Bersih digunakan untuk mengukur rupiah keuntungan kebersihan yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan dan mengukur seluruh efisien, baik produksi, administrasi, pemasaran, pendanaan, penentuan harga maupun manajemen pajak. Semakin tinggi rasionya memperlihatkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu.

Tetapi jikalau rasionya rendah memperlihatkan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat biaya tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi untuk tingkat penjualan tertentu, atau kombinasi dari kedua hal tersebut (Prastowo dan Juliaty, 2003:91). Rasio ini sanggup dihitung dengan rumus: 

Rasio ini mengukur jumlah rupiah keuntungan kebersihan yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan. Semakin tinggi rasionya semakin baik, lantaran memperlihatkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu.

4. Return On Investment (ROI)
 
Return On Investment merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini yakni keuntungan kebersihan sehabis pajak atau EAT (Sutrisno, 2001:255). Rasio ini dihitung dengan rumus: 
 
Rasio ini mengukur jumlah rupiah keuntungan kebersihan (setelah pajak) yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah investasi yang dikeluarkan. Semakin besar rasionya semakin baik (Sutrisno, 2001:255).

5. Return On Assets

Rasio ini disebut juga rentabilitas ekonomis, merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan tiruana aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam hal ini keuntungan yang dihasilkan yakni keuntungan sebelum bunga dan pajak atau EBIT (Sutrisno, 2001:254).Rasio ini dihitung dengan rumus:
Rasio ini mengukur tingkat keuntungan (EBIT) dari aktiva yang digunakan. Semakin besar rasionya semakin baik (Sutrisno, 2001:254).

D. Rasio Aktivitas

Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian memilih berapa tingkat acara aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan menjadikan semakin besarnya dana keludang kecepehan yang tertanam padaaktiva-aktiva tersebut. Dana keludang kecepehan tersebut akan ludang kecepeh baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang ludang kecepeh produktif. Beberapa rasio acara yang digunakan adalah:

1. Perputaran Piutang

Rasio ini mengukur berapa kali, secara rata-rata piutang yang dikumpulkan dalam satu tahun. Rasio ini mengukur kualitas piutang dan efisiensi perusahaan dalam pengumpulan piutang dan kudang kecepejakan kreditnya. Rasio ini biasanya digunakan dalam relasi dengan analisis terhadap modal kerja, lantaran memmemberikan ukuran seberapa cepat piutang perusahaan berputar menjadi kas. Angka jumlah hari piutang, menggambarkan lamanya suat u piutang bisa ditagih (jangka waktu pelunasan). Semakin usang jangka waktu pelunasannya,semakin besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang (Prastowo dan Juliaty, 2003:82). Rasio ini sanggup dihitung dengan rumus: 
Rasio ini mengukur dampak dan imbastivitas peng elolaan piutang. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin dampak dan imbastif pengelolaan piutangnya (Sutrisno, 2001:252).

2. Perputaran Persediaan

Seperti halnya perputaran piutang, rasio ini juga menggambarkan likuiditas perusahaan, yaitu dengan cara mengukurefisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan yang dimiliki oleh perusahaan.

Perputaran persediaan yang tinggi menunjukan semakin tingginya persediaan berputar dalam satu tahun. Hal ini menunjukan dampak dan imbastivitas manajemen persediaaan. Sebaliknya, jikalau perputaran persediaan rendah memperlihatkan pengendalian atas persediaan kurang dampak dan imbastif (Hanafi dan Halim, 2000:80). Rumus perhitungannya adalah: 
Rasio ini mengukur dampak dan imbastivitas pengelolaan persediaan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin dampak dan imbastif pengelolaan persediaanya (Sutrisno, 2001:251).

3. Perputaran Aktiva Tetap

Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan menurut aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana dampak dan imbastivitas perusahaan memakai aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin dampak dan imbastif proporsi aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri ibarat industri yang memiliki proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan. Sedangkan pada beberapa industri yang lain ibarat industri jasa yang memiliki proporsi aktiva tetap yang kecil, rasio ini barangkali tidak begitu penting untuk diperhatikan (Hanafi dan Halim, 2000:81). Perputaran aktiva tetap sanggup dihitung dengan rumus sebagai memberikankut: 
Rasio ini mengukur dampak dan imbastivitas penggunaan aktiva tetap dalam mendapat penghasilan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin dampak dan imbastif penggunaan aktiva tetapnya (Sutrisno, 2001:253).

4. Perputaran Total Aktiva

Rasio yang terakhir untuk komponen rasio acara yakni rasio perputaran total aktiva. Sama ibarat halnya rasio perputaran aktiva tetap, rasio ini menghitung dampak dan imbastivitas penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya memperlihatkan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah harus menciptakan manajemen mengmemperbaiki strategi, pemasarannya, dan pengeluaran investasi atau modalnya (Hanafi dan Halim, 2000:81). Rasio perputaran total aktiva memakai rumus: 
Rasio ini merupakan ukuran dampak dan imbastivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin dampak dan imbastif perusahaan memanfaatkan aktivanya (Sutrisno, 2001:253).

Demikian uraian macam-macam rasio keuangan dan rumusnya. Dalam mepenilaian kesehatan keuangan suatu perusahaan, rasio keuangan menjadi perberat sebelahan utama. (baca juga: indikator kesehatan keuangan perusahaan asuransi). Semoga artikel ini sanggup membantu dan mememperringan dan sepelekan dalam menciptakan analisis rasio laporan keuangan.
Advertisement

Iklan Sidebar